Senin, 11 Mei 2015

Keheningan Senja

Malam ini aku disini, tempat dimana kita pernah berdua. Berbagi cinta, bertukar rahasia. Bersama aroma tumbuh-tumbuhan yang memandang iri.
Hangat, seperti irama jazz yang mengalun lembut. Tatapanmu yang selalu membuatku meleleh seperti es krim cokelat yang pernah ku beri saat itu.
Desahan suaramu yang selalu menenangkan terdengar di telingaku, “Ray…..,” bisikmu. Dan kita pun duduk berhadapan. Kau menatapku lekat. Mencoba bertukan pikiran kembali. Tapi aku sangat tak mampu.
Disini, saat ini aku membisu. Di taman yang mempertemukan kau dan aku.
Senja dan Ray.
* * * *
“Maaf lama menunggu,” suara yang sangat aku rindukan itu memecah keheningan.
“Tidak, tidak apa-apa.”
“Ada apa? Bosan menunggu?”
“Aku tak pernah bosan untuk menunggumu.”
Kami terdiam sejenak. Tatapan mata itu seolah memberi isyarat.
“Sampai kapan kita akan seperti ini, Senja? Maksudku, kau.”
“Aku tak tahu. Kau bosan? Atau keberatan?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa bertanya?”
Aku tak bisa menjawabnya. Hening. Tangannya menggenggam telapak tanganku dengan lembut dan terasa erat.
I love you, Ray.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Ya, aku tahu itu.”
Kami kembali terdiam. Kali ini benar-benar diam. Hening. Hanya suara desahan angin yang seakan mengerti perasaanku saat ini. Mencoba menghiburku dengan senyum indahnya.
Air mata jatuh dari salah satu pelupuk matanya. Senja, andai kau tahu, aku sangat ingin menghapus air mata itu. Tangan ini tak mampu ku gerakkan ke pipi meronamu itu. Aku hanya menunduk. Tertunduk menahan bendungan air mata ini. Aku tak ingin kau melihatnya, Senja.
* * * *
Sore ini aku kembali berada di taman ini. Duduk di salah satu kursi taman tepat di depan air mancur. Segelas kopi panas yang ku beli di café seberang taman, kembali menemani. Aku mengeluarkan buku catatan dan pena dari saku. Entah apa yang akan ku tulis kali ini. Tak ku pedulikan orang yang berlalu lalang di depanku. Karena aku tahu, tak akan ada yang datang untukku. Setidaknya untuk saat ini.
Halaman buku catatan yang saat ini di tangan masih kosong. Aku masih tak tahu harus menulis apa. Sebenarnya ingin sekali aku mengeluarkan apa yang ku rasakan saat ini, tapi sangat sulit untuk merangkai kata-kata itu.
Aku lemah. Ku letakkan buku catatan dan penaku di atas kursi di sebelah kopi. Aku membungkuk, menutup wajah, mencoba menenangkan diri. Aku sudah tak bisa membendung air mata ini lagi. Ku seka air mata dengan telapak tangan. Aku berbisik pada diriku sendiri, “Senja…..”
Tak lama, Senja duduk di sebelahku. Dia menggenggam tanganku dengan penuh perasaan.
“Senja…..”
Dia tak bersuara. Hanya menyunggingkan senyum indah yang membuatku lebih tenang.
“Kenapa ada disini, Ray? Bukankah kau sudah tak mau lagi bertemu denganku?”
“Aku tak pernah berkata seperti itu.”
“Bukan mulutmu yang berkata.”
“Lalu?”
“Matamu yang mengisyaratkan seperti itu. Kau sudah tak banyak bicara saat bertemu denganku, jadi ku simpulkan seperti itu.”
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
Aku benar-benar diam. Tak bisa menjawab. Ingin rasanya aku teriak dan mengeluarkan seluruh air mata ini.
“Jangan terus-terusan membendung air mata, Ray.”
“Aku sedang berusaha.”
“Lebih baik kita bicara daripada berbagi air mata seperti ini.”
“Ya, aku tahu.”
Sunyi sejenak. Aku menundukkan kepala. Terlihat tanganku masih digenggam Senja. Tak lama, Senja menyandarkan kepalanya di atas bahuku. Aku hanya diam. Tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.
“Jadi, bagaimana hidupmu sekarang, Ray?”
“Sangat tidak menyenangkan.”
“Jangan begitu……”
“Kenyataannya seperti itu, Senja. Andai kau dapat bersamaku lagi.”
“Kau tahu, itu tidak mungkin, Ray.”
“Aku hanya berharap.”
Hening sejenak. Seperti sedang berpikir topik pembicaraan selanjutnya.
“Bagaimana kabarnya?”
“Siapa?”
“Kelly.”
“Baik. Sepertinya dia merindukanmu.”
“Dan kau?”
“Tentu. Sangat. Kalau tidak untuk apa aku kesini setiap hari?”
“Untuk mengenang pertama kali kita bertemu, mungkin.”
“Dan juga terakhir kali kita bertemu.”
“Jangan begitu…..”
“Kenyataannya seperti itu. Di tempat ini pertama kali kita bertemu, dan disini pula tempat terakhir kali kita berjumpa.”
“Jangan teruskan. Tolong.”
Aku menatap wajahnya. Dia tertunduk menahan air mata. Tak ku pedulikan orang-orang sekeliling menatapku dangan tatapan heran dan merendahkan.
Hari sudah gelap. Bulan menyunggingkan senyuman indah mengingatkanku pada seseorang yang sudah menungguku di rumah.
“Aku harus pergi, Senja.”
Buku catatan dan pena ku rapikan di saku. Aku meneguk habis kopi yang memang sudah tersisa sedikit dan membuang gelasnya ke tempat sampah.
“Selamat tinggal, Ray. Hati-hati. Aku sangat mencintaimu, Ray.”
* * * *
Rumah tampak sepi. Sepertinya Kelly sudah tidur, pikirku. Tapi saat aku membuka pintu, Kelly langsung menyambutku dengan memeluk tubuh ini erat.
“Dari mana?”
“Mau tahu saja.”
“Aku kangen.”
“Sama, dong!”
“Kenapa perginya terlalu lama?”
Aku hanya tersenyum dan mencium kening Kelly dengan lembut.
“Kenapa belum tidur?”
“Tidak bisa.”
“Menunggu, ya?”
Kelly mengangguk. Lalu kami masuk kamar dan naik ke tempat tidur. Mencoba memejamkan mata beristirahat. Tak lama kemudian, suara Kelly membuatku membuka mata lagi.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Ayo cerita….”
“Cerita apa, Kelly?”
“Kemana dan ngapain saja hari ini?”
Ngapain, ya? Sepertinya selalu berada di tempat yang sama dan melakukan aktifitas yang sama setiap hari. Terlalu bosan untuk diceritakan.”
“Aku juga, tapi aku tak pernah bosan. Mau dengar ceritaku saja?”
“Sudah malam, lebih baik kita tidur sekarang. Ceritanya lanjutkan besok saja, bagaimana?”
“Besok kapan? Kita tidak pernah ada waktu untuk bersama. Hanya sarapan pagi saja, setelah itu sibuk dengan urusan masing-masing.”
“Ya sudah, ceritakan sekarang.”
“Sudah malam, lebih baik kita tidur sekarang. Ceritanya lanjutkan besok saja,” Kelly menirukan kata-kataku
Lalu aku tertawa. Dunia seperti kembali bersemi saat bersama Kelly.
“Sudahlah lebih baik kita tidur, sudah larut. Selamat malam, Kelly.”
Aku mencium keningnya dengan lembut ketika matanya sudah terpejam. Aku menyayangimu, Kelly. Begitu juga kau, Senja, desahku perlahan
* * * *
Pagi hari, Kelly sudah berada di ruang makan. Sarapan sudah ia siapkan di atas meja makan.
“Nanti malam langsung tidur saja, tidak usah menunggu,” kataku membuka percakapan.
“Memang kenapa?”
“Nanti kecapaian kalau menunggu sampai malam.”
“Mau kemana hari ini? Aku boleh ikut? Aku kan libur hari ini.”
“Mau ikut? Hmm….,” aku ragu.
“Kalau boleh. Kalau di rumah saja bosan sendirian. Aku hanya ingin menemani.”
Aku berpikir, lalu menjawab,
“Tidak usah, sendiri juga tidak apa-apa.”
“Ya sudah kalau begitu,” raut mukanya terlihat kecewa. “Tapi jangan pulang malam-malam, ya?”
“Kenapa?”
“Nanti aku kangen.”
* * * *
Taman ini adalah taman kita. Kau dan aku. Senja dan Ray.
Tapi mengapa taman ini seperti berbeda dari biasanya?
Kau duduk di sebelahku. Hening. Tanpa suara.
Aku bergeser dan menghadapmu agar dapat melihat wajahmu yang muram lebih jelas. Wajah yang begitu dingin, sedih, dan pilu.
“Ada apa?” Tanyaku memecah keheningan.
“Tidak.”
“Wajahmu tak bisa bohong, Senja. Aku tahu betul dirimu. Ceritakan saja.”
“Karena kau tak mengajak Kelly kesini.”
“Aku hanya ingin berduaan saja denganmu saat ini.”
Senja memalingkan wajahnya dari hadapanku. Menunduk menatapi tanah. Menunda laju gelombang percakapan. Aku menatap wajahnya, berusaha menyampaikan harap lewat binar mataku.
“Aku ingin kita kembali, Senja.”
“Tidak mungkin, Ray. Kita sudah pernah bicarakan ini.”
“Tapi aku tak bisa jauh darimu. Sungguh….”
“Kau masih punya Kelly.”
“Iya, tapi semua tidak sama, Senja. Aku butuh kamu.”
“Kelly juga membutuhkanmu, Ray.”
Aku menahan napas sejenak. Menghentikan percakapan. Aku tutup mataku dengan sapu tangan yang baru saja ku keluarkan dari saku untuk menyeka air mata yang tak bisa lagi ku bendung.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Seorang tukang sapu yang tampak bingung melihatku terisak sendirian.
“Tidak, tidak apa-apa. Terima kasih,” aku menjawab dan memastikan air mataku sudah tak terlihat. Tukang sapu itu pun segera pergi.
Aku dan Senja terdiam beberapa saat. Aku melihat Senja terus-menerus mengeluarkan air mata. Dan aku beberapa kali menyeka air mata yang membendung di pelupuk mata ini.
  Senja masih menangis. Air matanya mengalir ke arahku, seolah ingin menyampaikan pesan tersirat. Aku menggenggam erat tangannya agar ia dapat merasa lebih tenang untuk menyampaikan pesan itu. Senja menatapku dengan tatapan mata yang berlinang air mata.
“Kita takkan bertemu lagi, Ray…”
“Kenapa, Senja? Jangan tinggalkan aku…”
“Terima kenyataan, Ray. Mulailah hidup barumu bersama Kelly.”
“Tanpamu? Itu takkan mungkin!”
Please, Ray, lupakan aku.”
“Aku…. Aku tidak bisa, Senja.”
“Harus! Kamu harus bisa melupakan aku!”
Pelupuk mata ini sudah tak kuat lagi menampung air mata. Senja beranjak dari tempat duduknya. Perlahan menghilang bersamaan dengan hembusan angin malam yang mungkin akan mengantar Senja berlalu. Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Ku genggam tangannya, mencoba menahan kepergiannya yang diiringi keheningan angin malam.
“Senja…. Senja, jangan pergi!”
“Maafkan aku, Ray. Tolong jaga Kelly, our lovely daughter. Untukku. Bye, Ray...”
“Aku akan menjaganya, tapi tolong jangan pergi, Senja!”
“Maaf, Ray. Aku akan selalu mencintai kalian, Ray, Kelly.
“Kami juga akan selalu mencintaimu, Senja. Kami butuh kamu…”
Senja menghilang dari hadapanku. Aku kembali terduduk lemah. Tak berdaya.
Aku menatap tempat Senja biasa bersandar padaku. Kosong. Senja benar-benar hilang. Yang tersisa hanyalah malam pilu, di tengah lampu-lampu taman yang sekarang menjadi kenangan.
“Selamat tinggal, Senja….,” bisikku perlahan.
* * * *
Aku sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. Terlihat lampu ruang tengah masih menyala. Saat aku masuk, Kelly langsung memelukku erat.
“Habis menangis? Ada apa?” Tanya Kelly saat melihat wajahku.
“Tidak apa-apa.”
“Aku mau cerita. Kali ini tolong dengarkan, ya?”
Kelly menarikku ke kursi. Ia menyuruhku duduk kemudian mendengarkan ceritanya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah manjanya itu.
“Baik, sekarang coba ceritakan.”
“Tadi ada yang menelepon, suaranya seperti ibu-ibu. Dia bilang mau cari ayah, tapi aku bilang ayah belum pulang. Terus, kami mengobrol. Dia menanyakan bagaimana keadaanku, sekolahku, dan yang lainnya. Lalu dia bertanya apa aku kesepian. Aku bilang, aku sempat merasa sedih waktu ibuku meninggal. Tapi aku tidak kesepian karena aku masih punya ayah yang sangat sayang padaku.”
Aku memeluk Kelly. Erat. Mencium keningnya. Aku merasakan air mata di pelupuk ini.
“Kenapa? Ceritaku bikin sedih, ya?”
“Tidak, Kelly…. Teruskan.”
“Lalu dia bertanya tentang ayah. Aku bilang ayahku selalu pulang malam, tapi aku selalu menunggunya karena aku tidak mau tidur sendirian. Aku juga ingin ketika ayah baru sampai rumah dan wajahnya terlihat lelah, saat dia melihatku jadi semangat lagi. Terus aku bilang setiap ayah sampai di rumah, pasti ia selalu memelukku erat dan mencium keningku dengan penuh rasa sayang. Seperti sekarang ini, ya kan?”
“Kelly, apa kamu bertanya siapa namanya?”
“Tunggu, aku belum selesai cerita. Dia bertanya apa aku sayang pada ayahku. Tentu saja aku menjawab aku sangat sayang pada ayah. Ayah segalanya untukku. Lalu ibu-ibu itu menyuruhku untuk selalu menyayangi dan menjaga ayah baik-baik. Aku penasaran dia siapa. Saat aku bertanya nama ibu siapa, dia bilang namanya Senjani Putri. Wah, kataku, namamu seperti ibuku, Senja, tapi aku tidak tahu siapa nama lengkap ibuku. Lalu dia bilang dia harus pergi, setelah itu dia pamit dan menutup teleponnya.”
Jantungku berdegup kencang. Aku menatap wajah Kelly lekat-lekat.
“Kamu tidak berbohong, kan, Kelly?”
“Tidak, untuk apa aku bohong? Aku kan tidak pernah berbohong.”
Aku tersenyum padanya. Kemudian aku membawanya ke tempat tidur. Saat kami sudah berbaring untuk tidur, Kelly mendekatkan kepalanya ke telingaku. Kemudian ia berbisik,
“Oh iya, aku lupa. Tadi ibu-ibu itu menitipkan pesan. Katanya Senja sayang Ray dan Kelly. Eh, itu kan tulisan yang ada di foto itu, ya?”
Aku melihat ke arah foto yang diletakkan di atas meja samping tempat tidur. Di foto itu terlihat Senja sedang menggendong Kelly yang masih bayi, dan aku disampingnya. Senja yang membingkai foto itu dan menuliskan tulisan “Senja sayang Ray dan Kelly” di atas fotonya.
Baru saja aku akan menyampaikan sesuatu pada Kelly tapi ternyata dia sudah tertidur. Samar-samar aku melihat bayangan Senja  di sudut kamar. Dia tersenyum dan berbisik,
“Aku menyayangimu, Ray. Jaga Kelly untukku, ya?
“Aku juga menyayangimu, Senja…,” sahutku perlahan sambil mengusap kepala Kelly.

16 Desember 2014

Senin, 27 April 2015

Sepucuk "Hai, lagi apa?"

Pernah nggak sih tiba-tiba mantan menghubungi lagi? Tiba-tiba ya. Saat kita sedang asyik-asyiknya menjalankan rutinitas seperti biasa, dering handphone membuat mata terbelalak seketika karena ada pesan "Hai, lagi apa?" di layar handphone. Mantan, iya mantan. Orang yang dulu pernah membuat hidup kita melayang-layang, berbunga setiap hari, ya intinya yang senang-senang deh. Dia datang dengan "Hai" setelah sekian lama sudah tidak ada kabar satu sama lain. Senang, sedih, marah, heran, kesal, bingung, atau bagaimana perasaan kalian jika itu yang kalian rasakan?

Senang, mungkin untuk kalian yang belum bisa move on merasakan hal ini. Pasti senang karena akhirnya orang yang masih kalian sayang menghubungi lagi.
Sedih, untuk kalian yang sudah berusaha move on tiba-tiba usaha kalian digagalkan dengan sepucuk "Hai".
Marah dan kesal, pasti kalian yang sudah move on 99,99989% akan marah saat melihat kalimat "Hai, lagi apa?" secara tiba-tiba. Kenapa marah? Karena belum sepenuhnya move on. Usaha itu tinggal sedikit lagi dan kalian tidak ingin gagal hanya karena "Hai, lagi apa?".
Heran dan bingung, ini sudah pasti dirasakan oleh orang-orang yang sudah berhasil move on 1000000000%. Tentu saja heran, nggak ada angin, hujan, badai, atau pun salju tiba-tiba ada pesan singkat "Hai, lagi apa" dari mantan. Pasti yang ada di pikiran orang-orang heran ini begini, "Lah, apaan deh? Tumben amat? Ngapain coba?". Ya kan? Ya nggak sih?


Ini hanya sepenggal cerita tidak penting yang tidak wajib untuk dibaca.

Beberapa waktu lalu, aku sedang asik bersantai di dalam mobil menunggu ibuku yang sedang menghadiri pernikahan saudaraku yang aku pun tak tahu nama daerah itu. Karena saat itu aku bosan, aku lebih memilih keluar dan menunggu di mobil. Ya, menunggu dan menunggu. Aku hanya mendengarkan suara penyiar radio memutarkan lagu-lagu yang sedang hits dari radio dalam mobil. Selain mendengarkan radio, aku juga mengobrol dengan teman-temanku via media percakapan masa kini, yaitu Line. Saat aku sedang bernyanyi-nyanyi dengan asiknya, handphoneku berbunyi menandakan ada chat Line. Seketika aku berpikir itu dari teman-temanku, ternyata saat aku membukanya, betapa terkejutnya aku saat itu juga. Sesungguhnya aku tak mengharapkan melihat nama itu muncul di layar handphoneku lagi, tapi takdir berkata lain. Aku melihat isi chat yang berbunyi, "Hai, lagi apa?" di layar handphoneku. Pesan itu terpampang nyata dan jelas. Ya, pesan itu aku dapatkan dari mantanku. Orang yang dahulu pernah menjadi alasanku untuk menyambut setiap hari dengan senyuman yang indah. Orang yang dahulu selalu membagi kebahagiaannya denganku. Orang yang dahulu selalu menghiburku di kala aku sedang tidak ingin diganggu. Orang yang............. pernah menggoreskan luka di hati ini.

Jujur, aku sudah tak mengharapkannya kembali lagi, bahkan hanya untuk menanyakan kabarku. Aku sudah menganggapnya hilang. Hilang dari permukaan bumi. Untuk melihat wajahnya saja aku sudah tidak ingin. Bukan, bukan karena aku masih sakit hati atau belum move on. Aku hanya ingin memulai kehidupan baruku yang benar-benar baru, tanpa mengungkit masa lalu. Memang benar masa lalu adalah pelajaran, dan aku membenarkan itu semua, sampai-sampai aku sudah tidak mudah percaya lagi pada siapa pun. Mungkin aku trauma atau phobia, entahlah. Ada salah satu teman yang mengatakan kalau aku menderita Pistanthrophobia yaitu ketakutan untuk percaya pada orang lain yang biasanya disebabkan trauma pada hubungan di masa lalu. Ia juga mengatakan orang Pistanthrophobia ini selalu penuh rahasia dan sering curiga terhadap orang lain. Oke, pembahasan phobianya cukup.

Saat aku melihat layar handphoneku ada pesan seperti itu, aku hanya mengernyitkan dahi dan berkata, "Hah?" tanpa dapat berkata apa-apa lagi. Sesungguhnya di otakku terdapat banyak pertanyaan yang menggambarkan keherananku dengan apa yang aku lihat itu, tapi entah mengapa aku hanya dapat mengeluarkan bunyi, "Hah?". Aku heran, bingung, tak mengerti, dan...... Ah, susah untuk dideskripsikan! Setelah sekian lama tidak ada kabar, kali ini ia mengirim pesan dengan sapaan dan menanyakan kegiatan yang aku lakukan saat itu juga. Entah, ia berpikir atau tidak saat ia mengirimkan pesan itu. Ingin ku maki rasanya tepat di depan wajahnya. Sengaja aku membalas pesan itu cukup lama. Aku sudah lelah tertipu dengan segala akal bulusnya dan permainannya yang sangat mengagumkan. Sekarang aku ingin berhati-hati sekali pun dengan orang lain. Mungkin aku (sok) selektif, tapi percayalah, jika kalian merasakan apa yang aku rasakan, kalian pasti akan bertindak sama sepertiku. Orang-orang yang ada di dekatku harus mengerti akan phobia yang aku alami ini. Kalau memang malah membuat risih, tidak nyaman, atau bahkan ilfeel, ya silakan menjauh dan aku tidak akan melarang karna itu bukan hakku. Aku yakin, Tuhan punya sejuta rencana baik untukku di masa depan.

Ingin tahu kiriman balasanku? Kira-kira seperti ini percakapan kita.
"Hai, lagi apa?"
"Lagi duduk."
"Ga pergi? Kan hari libur."
"Ini lg pergi."
"Ohehe kuliahnya gmn?"
"Ya gitu."
"Gitu gmn? Gampang ya?"
"Nggaklah."
"Hmm tan, kamu sehat kan?"
"Knp sih?"
"Kenapa apanya?"
"Knp kamu masih hubungin aku? Bikin sakitnya masih kurang?" (Maaf disini emosi saya meledak)
"Aku gatau harus cerita ini ke siapa lagi, yg pasti ga mudah untuk buang permata gitu aja"
"Trus?"
"Maafin aku."
"U're liar! I don't need your drama, thanks."
"I'm sorry, but I miss u. Semoga kamu lebih baik sekarang dengan kehidupan kamu yg baru, kamu pasti udah bahagia sama orang yg selalu bikin kamu seneng skrg. Aku jg ikut seneng kalo kamu seneng."

Pesannya yang terakhir aku sengaja tidak membukanya terlalu cepat, dan aku tahu pasti ia tahu itu. Lalu aku mengganti foto cover Lineku dengan tulisan You're a liar ini.

Aku yakin ia melihat saat aku mengganti cover Line di timeline Line, dan aku yakin ia sadar bahwa itu untuknya. Entah hanya ia yang merasa atau ada orang lain juga, aku tidak peduli. Aku hanya ingin meluapkan kekesalanku dengan tulisan itu. Tentu saja kekesalanku pada orang tak tahu diri yang telah menghilang menyisakan luka, kemudian datang tiba-tiba seperti orang tak berdosa. Aku tidak membalas pesan terakhirnya itu. Langsung ku hapus ia dari daftar percakapanku di Line. Aku sangat sudah tak peduli dengan segala hal yang berbau dirinya, termasuk untuk semua kenangan kami di masa lalu.

Jadi, apa yang kalian lakukan jika 'si mantan' menghubungi secara tiba-tiba? Senang, sedih, marah, heran, kesal, bingung, atau ada perasaan lain? Hoho control your emotions, guys!

Senin, 30 Maret 2015

BOLA MATA


Haruskah cinta seperti ini? Berlari tanpa tujuan. Berlari tanpa berkenalan dengan lelah, tapi ia mengenal jenuh. Jenuh akan rutinitas yang itu-itu saja. Jenuh dengan semua ejekan angin tentangnya. Ya, jenuh. Satu kata namun berjuta makna. Kadang dalam kehidupan ini pasti kita akan bertemu dengan jenuh, begitu juga cinta. Cinta akan bertemu dengan jenuh ketika ia merasa lelah. Saat itu cinta akan pasrah. Pasrah dengan keadaan yang sangat mengejutkan siapa pun yang menjalankannya. Dan, ini yang sedang aku rasakan. Jenuh akan semua hal yang mengenai cinta. Cinta, cinta, dan cinta. Aku belum paham betul akan arti cinta ini. Kata orang, cinta itu membahagiakan, tapi sulit untukku merasakan hal itu. Kata orang, cinta itu indah. Indah? Seperti apa definisi cinta yang indah itu menurut mereka? Sulit untuk mengakui benar apa yang orang-orang katakan tentang cinta itu selama aku belum merasakannya. Yang ada di benakku, cinta adalah sesuatu yang menyakitkan, pahit, menyulitkan, menyesakkan, hingga membunuh batin dan jiwaku. Ya, sangat sulit. Ini sangat sulit.
****
Sudah lama aku menjauh dari hal-hal yang berbau cinta. Aku tidak ingin menambahkan luka saat luka lamaku ini belum kering. Yang aku jalani saat ini adalah upayaku agar aku dapat melupakan masa laluku yang kelam tentang cinta. Aku tidak mau menunjukkan sesuatu yang menyulitkan dalam kehidupanku di luar sana. Cukup aku dan Tuhan yang mengetahuinya.
Aku menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di sebuah universitas yang berada di Jakarta. Disini aku akan selalu berusaha menemukan kebahagiaanku yang baru. Kebahagiaan yang mampu merubah hidupku menjadi lebih baik. Kebahagiaan yang akan membuatku lupa tentang masa laluku. Bukan, bukan lupa, tapi tidak akan mengingat kembali tentang hal itu. Di kampus, aku hanya sebagai mahasiswa biasa dengan rutinitas kampus yang itu-itu saja. Aku ingin sibuk, agar aku dapat lebih menemukan diriku yang baru, tapi sesuatu menyulitkanku untuk sibuk. Hingga akhirnya aku hanya menjadi mahasiswa kuliah-pulang kuliah-pulang, atau yang lebih dikenal dengan kupu-kupu.
Mempunyai banyak teman adalah salah satu upayaku untuk menemukan diriku yang baru. Aku berkenalan dengan banyak teman baru di kampus. Mereka baik, ramah, peduli satu sama lain. Sangat berbeda dengan persepsiku saat pertama kali aku mengenal mereka. Aku memang tipikal orang yang takut tidak disukai dengan orang baru, maka dari itu awal aku masuk, aku lebih banyak diam.
Indra, laki-laki bertubuh tinggi ini adalah teman dekatku saat ini. Kami berteman saat menjadi mahasiswa baru di kampus. Bertubuh tinggi dengan bentuk yang proporsional, membuat aku tahu banyak yang menyukai Indra saat kami baru masuk. Aku? Tidak, aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Pergi dan pulang bersama, membuat aku dan Indra menjadi teman yang sangat akrab. Awalnya aku sangat tertutup dengan Indra, aku tak ingin siapa pun tahu tentang masa laluku yang membuatku menjadi lebih murung sekarang ini. Indra selalu menghiburku jika aku sudah terlihat murung. Kami baru bertemu di kampus, tapi kedekatan kami, maksudnya pertemanan kami sudah seperti berteman sejak kecil. Itulah yang mereka lihat selama ini. Hari semakin berlalu, dan Indra menjadi salah satu teman terbaikku di kampus ini. Indra mengetahui semua tentangku dan begitu juga denganku yang tahu segala hal tentang Indra.
Masa lalu kami hampir sama, yaitu ditinggalkan orang yang kami sayang. Yang membedakan adalah aku ingin melupakan masa laluku dan semua rasa pahitnya, sedangkan Indra masih ingin bertahan dengan sesuatu yang membuatnya sakit. Aku tidak ada hak untuk melarang itu. Semua keputusan ada di tangannya. Aku hanya dapat berharap ia berpikir dengan otak jernihnya agar ia sadar, masih banyak wanita lain yang menyukainya daripada ia harus menunggu sesuatu yang sangat tidak pasti.
“Kamu tuh nggak tahu rasanya gimana, Mil.”
Hanya itu yang dikatakan Indra kalau aku berkata untuk lupakan saja masa lalunya dan jangan menunggu hal yang tidak pasti. Jika ia sudah berkata demikian, aku hanya menatapnya dan tersenyum,
“Ya sudah, itu hak kamu, Ndra.”
****
“Nes, kamu kenapa senyum-senyum melihat Indra?” Sapaku pada Nesya yang terlihat bengong sambil tersenyum memandang Indra dari belakang.
“Eh, Mil, bikin kaget saja kamu. Aku… Aku nggak…”
“Ah, kamu suka Indra, ya?”
“Kamu ini ada-ada saja, Mil. Tidak, aku hanya….”
“Sudahlah, Nes, wajahmu sudah memerah.”
“Tolong jangan beri tahu Indra, Mil. Aku tahu kamu teman dekatnya, tapi aku mohon.”
“Iya, iya, aku akan diam untukmu.”
Nesya, teman kelasku dan Indra. Wanita cantik berparas oriental yang sangat ramah ini mudah ditebak jika sedang suka dengan seseorang, salah satunya Indra. Nesya pintar, cantik, baik, rajin… Ah, tidak mungkin Indra menolaknya. Aku ingin sekali memberitahu Indra tentang ini, siapa tahu ia bisa melupakan masa lalunya. Tidak, tidak, aku sudah berjanji pada Nesya untuk tidak memberitahukan ini pada siapa pun termasuk Indra. Sebenarnya aku tidak mengerti, mengapa Nesya lebih senang menjadi “pengagum rahasia” daripada terang-terangan agar Indra tahu. Apa ia takut Indra akan menjauh karena ia tahu Indra seorang lelaki yang dingin? Kemungkinan besar seperti itu. Biarlah Nesya yang menyimpan perasaannya itu.
****
Indra datang terlambat. Tidak biasanya ia seperti itu. Datang saat dosen sedang menerangkan, cara berjalan yang tidak biasa, wajah terlihat lesu, dan mata yang sayu. Aku hanya melihat sekilas karena dosen tepat berada di depanku. Ingin sekali rasanya aku menanyakan keadaannya. Jika ia kesiangan, tidak mungkin seperti itu paras wajahnya.
Aku mengambil bloknoteku, lalu ku tulis sebait puisi yang sedang ada di otakku. Aku sama sekali tidak mendengar apa yang dosen sedang terangkan di depan kelas.
            Bola mata itu masih disana
            Tapi ia tak menatapku
            Aku mengerti
            Ia menatap sesuatu yang
            Masih menjadi harapannya
Ah! Aku sangat tidak fokus pada keadaan. Aku tidak tenang. Takut, resah, dan gelisah sedang menyelimutiku saat ini. Ada apa denganku? Puisi ini? Tuhan, apa yang terjadi? Aku harus tenang. Mila, kamu harus tenang. Tarik napas, hembuskan. Tarik napas, hembuskan. Sedikit terasa lega walaupun terasa masih ada yang mengganjal.
“Mil, Indra pucat. Badannya hangat,” bisik Karin yang duduk tepat di belakangku dan berada di sebelah kanan Indra. Aku sangat bingung harus bagaimana. Pantas saja daritadi aku merasa gelisah dan tak tenang. Tapi apakah ini pertanda untuk Indra? Ingin sekali rasanya aku bertanya pada takdir mengenai hal ini. Aku hanya diam setelah Karin memberitahu tentang Indra barusan. Saat aku mencoba untuk menengok ke belakang, aku melihat Indra tidak seperti biasanya. Wajahnya yang pucat, ditambah rambut yang tidak rapi membuatku yakin Indra tidak sehat. Aku hanya dapat mengutuk dalam hati agar mata kuliah ini cepat berakhir dan aku segara mengantar Indra ke pusat kesehatan kampus.
Akhirnya kelas berakhir. Aku segera menghampiri Indra untuk memastikan keadaannya. Saat aku pegang tangannya, astaga! Ini bukan hangat, ini panas! Indra benar-benar sakit. Aku segera membawanya ke pusat kesehatan kampus agar Indra bisa istirahat dan aku akan meminta obat disana. Indra sangat kelelahan. Ia seorang mahasiswa aktif dalam organisasi kampus, tidak seperti aku yang “kupu-kupu”. Aku sangat tidak tega melihat Indra dalam keadaan lemah seperti ini.
“Ndra, kamu pulang saja, ya?”
“Aku masih ingin ikut kelas setelah ini, Mil.”
“Kamu sedang sakit, Ndra. Kamu harus istirahat.”
“Aku baik-baik saja, Mila. Aku hanya lelah.”
“Terserah kamu, Ndra. Minum obat dulu, ayo aku bantu.”
Indra memang seorang pria yang menjunjung tinggi pendidikan. Ia selalu berusaha menjadi mahasiswa yang aktif dalam intra maupun ekstra. Tapi aku heran, walaupun sudah sesibuk itu, ia tetap tidak akan pernah lupa dengan masa lalunya. Ia masih bersikeras untuk dapat mewujudkan masa lalunya yang pahit menjadi masa depan yang indah. Sangat-sangat sulit dimengerti, tapi itulah Indra.
Di kelas berikutnya ternyata Indra masuk kelas. Lelaki itu memaksakan diri agar tidak tertinggal dalam mata kuliah manapun. Indra duduk di barisan depan, sementara aku ada di barisan ketiga. Aku dapat melihat Indra walaupun dari belakang. Tubuhnya yang lemas ia usahakan agar terlihat tetap bugar, aku dapat melihatnya. Tangannya terlalu sulit untuk mencatat penjelasan dosen, akhirnya ia hanya mengamati dengan seksama saat dosen menerangkan. Aku menatapnya dengan penuh harapan agar ia dapat sehat kembali. Aku tak ingin Indra sakit seperti ini.
“Kamu jujur saja, Mil,” suara Karin yang duduk di sebelahku membuyarkan lamunanku saat dosen keluar kelas.
“Jujur? Jujur apa maksudmu?”
“Aku melihat ada yang berbeda saat kamu menatap Indra. Kamu sangat khawatir, kan?”
“Tentu aku khawatir, Indra sahabatku.”
“Bukan, maksudku ada yang berbeda dengan kekhawatiranmu itu. Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Mil.”
“Ah, ada-ada saja kamu, Rin. Kamu hanya menerka-nerka.”
“Hahaha aku cukup berpengalaman, Mila. Aku tahu mana tatapan seorang sahabat yang sesungguhnya dan tidak.”
“Menurutmu? Aku?”
“Kamu? Tatapanmu itu tatapan seorang sahabat yang sesungguhnya. Sesungguhnya memiliki perasaan yang lain hahaha mengaku saja, Mil. Kamu dan Indra sangat cocok.”
“Sudahlah, Rin, kamu sok tahu!”
Karin masih terus tertawa sampai teman-teman yang lain tak mengerti apa yang terjadi padanya. Sedangkan aku memikirkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru saja dikatakan Karin. Apa benar aku mempunyai perasaan yang berbeda pada Indra? Perasaan yang melebihi seorang sahabat. Perasaan khusus wanita terhadap lawan jenisnya. Aku saja tidak tahu, mana mungkin Karin tahu. Ah, ia hanya menggodaku!
****
Siang itu, Indra masih ada di dalam kelas. Ia masih sibuk dengan komik Jepangnya. Ya, itulah Indra. Kalau sudah bersama dengan komik, bisa lupa segalanya. Makan siang pun mungkin akan ia tinggalkan demi membaca komik. Aku tak sanggup menahan rasa laparku ini, jadi aku memutuskan untuk ke kantin dan menghibur lambungku.
“Ndra, ayo ke kantin!”
“Kamu duluan saja, Mil. Aku belum lapar.”
“Kamu belum lapar atau lagi asik baca komik?”
“Nah itu kamu tahu hehehe…”
“Terserah, Ndra. Aku lapar, aku ke kan….”
“Ndraaa, suka baca komik juga? Ya ampun kita sama!” Suara Nesya memotong pembicaraanku pada Indra. Huh, dasar tak tahu adab!
“Iya, Nes, hehe…”
“Ndra, aku ke kantin. Kamu mau nitip apa?” Suaraku mengeras agar tidak terpotong lagi.
“Roti saja, Mil. Thanks, Mila cantik!”
Aku keluar kelas dan masih mendengar ocehan Nesya yang membicarakan komik. Memang tidak aneh jika Nesya seperti itu, ia kan suka pada Indra. Aku baru tahu Nesya menyukai segala hal berbau Jepang. Tak heran memang, wajahnya yang oriental itu membuatku juga yakin ia suka pada hal-hal Jepang. Ah, lagi pula apa bagusnya Jepang? Lebih indah negeri sendiri, Indonesia. Kenapa aku jadi seperti sinis pada Nesya? Tidak, aku tidak sinis. Ya, aku tidak sinis!
****
“Mil, besok kamu ada acara?”
Free, Ndra. Ada apa?”
“Jalan yuk? Aku mau ke toko buku.”
“Oke, siap!”
Tidak biasanya Indra mengajakku pergi ke toko buku. Mungkin ia ingin membeli komik terbaru, tapi mengapa tidak dengan Nesya saja? Kan mereka sesama penyuka komik Jepang. Atau mungkin benar jika Indra tidak begitu merespon Nesya? Lebih baik aku tanyakan padanya langsung.
            Mungkin kau tak pernah
            Sadar akan hadirku ini
            Yang akan selalu menunggu
            Dan menunggu sesuatu
            Sesuatu yang sangat tak pasti
            Dan mungkin tak akan
            Pernah menjadi pasti
“Kamu cari komik apa, Ndra?” Tanyaku saat Indra sedang asik melihat-lihat komik Jepang. Aku bingung komik ini bercerita tentang apa. Yang sering aku lihat, Indra beberapa kali tertawa terbahak-bahak saat membaca komik Jepangnya itu. Setiap aku tanya mengapa ia tertawa, ia hanya menjawab, “Baca sendiri dong biar tahu!”
“Aku lagi cari One Piece,” jawabnya datar dengan pandangan masih terfokuskan pada rak yang berisi komik-komik Jepang.
“Oh… Oh iya, kamu sama Nesya kan sama-sama suka komik, kenapa cari komiknya nggak sama Nesya? Kan kalian bisa berdiskusi saat mau beli.”
“Nggak ah, Nesya memang pecinta anime, tapi…. Ah beda pokoknya. Kalau ngobrolin anime memang nyambung, seru, tapi di luar pembicaraan anime, dia aneh. Nggak kaya kamu.”
Dug! Seketika degupan jantungku mengencang. Tidak seperti aku? Maksudnya? Aku tak bisa menahan degupan jantung ini lagi, aku harus menjauh sesaat dari Indra.
“Ndra, aku mau lihat novel ya disana.”
“Oke, nanti aku kesana.”
Apa maksud pembicaraan Indra tadi? Aku benar-benar bingung, dan menjadi tidak fokus. Fokusku untuk mencari novel telah buyar, aku masih memikirkan ucapannya tadi. Lalu, mengapa degupan jantung ini semakin cepat? Rasanya ingin aku teriakkan semua ini.
“Sudah selesai cari novelnya?” Suara Indra seketika membuyarkan lamunanku yang menghadap ke rak novel, seakan-akan sedang memilih novel yang ingin ku beli.
“Eh, Ndra, sudah, tapi lagi nggak ada yang bagus,” jawabku berbohong, Jelas saja bohong, sedaritadi aku tidak membaca apa-apa. Jangankan sinopsis novel, judul novel-novelnya saja tak ada yang aku ingat.
“Ya sudah, makan yuk! Laper nih.”
“Kamu nggak jadi beli komik?”
“Jadi kok, ini,” jawabnya sambil menunjukkan plastik yang berisi beberapa komik. Ya, beberapa. Indra tidak pernah membeli hanya satu komik, pasti ia membeli beberapa.
****
Malam ini terlihat sangat indah. Bintang-bintang bertaburan tak beraturan di langit. Mereka menemani bulan yang selalu sendiri. Meski bulan selalu sendiri, ia tak pernah sedih. Ia selalu memancarkan sinar kebahagiaannya untuk bumi saat malam tiba. Jika bulan sedih, pasti ia akan redup, seperti manusia. Jika sedih, manusia tak ada yang bisa memancarkan senyuman indah di wajahnya. Wajah manusia akan terlihat redup ketika sedang bersedih. Saat senang, manusia selalu berbagi kebahagiaannya itu dengan orang lain, sehingga orang lain dapat merasakan pancaran kebahagiaan yang sedang dirasakan.
Aku mulai meragukan perasaanku sendiri, sedang senang atau sedih, aku pun tak tahu. Masih terngiang ucapan Indra tadi siang di toko buku. Apa maksudnya mengucapkan seperti itu? Haruskah aku bertanya sendiri atau…… Tapi untuk apa aku bertanya? Ya, kalau jawabannya membuatku senang, tapi kalau tidak? Itu hanya akan membuat perasaanku berantakan, tidak hanya perasaan, tapi persahabatanku dengan Indra pun dapat pecah karena perasaanku sendiri. Aku masih sangat ingat, Indra akan bertahan pada masa lalunya yang sudah menggoreskan luka pada hatinya. Lebih baik aku diam dan menganggap tidak ada apa-apa.
Mengapa aku menjadi seperti ini? Mengapa aku terus memikirkan Indra? Apa benar yang dikatakan Karin? Ah, tidak mungkin! Perasaan ini hanya sesaat. Sesaat datang lalu pergi, kemudian datang lagi, dan pergi lagi. Itukah yang dinamakan sesaat? Sesaat datang dan pergi?
Cinta ini datang begitu saja
Tanpa permisi, tanpa perkenalan
Aku tak mengenalmu
Dan aku yakin tak perlu mengenalmu
Silakan kau datang
Bahkan kalau ingin pergi pun silakan
Aku tak memaksa
Karena aku tahu
Pada akhirnya kau hanya akan
Menggoreskan luka